Gadget membuat semuanya menjadi serba mudah, ringkas dan cepat. Fenomena seperti ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah dikalangan masyarakat, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dari kalangan tua maupun muda. Kesenangan di ujung jari yang begitu mudah merangsang pengeluaran dopamin. Yang dalam keadaan normal hormon ini di produksi dengan cara yang tidak instan. Membutuhkan proses, dalam keadaan normal maka kita membutuhkan usaha yang keras terlebih dahulu agar hormon ini bisa keluar. Contohnya kita bertahun-tahun belajar untuk lulus kuliah, Ketika saat wisuda datang maka kita akan merasa Bahagia dan senang sehingga menstimulasi pengeluaran hormon ini. Bersusah payah mencari uang untuk membeli barang yang kita inginkan, dan pada suatu titik tertentu keinganan itu menjadi kenyataan yang akhirnya memaksa dopamin itu keluar sehingga kita sangat senang, Bahagia dan juga bangga.
Nyatanya sekarang proses
fisiologis tersebut bisa dimanipulasi dan kita begitu menikmatinya. Ya hanya
dengan likes, komentar dan notifikasi membuat pengguna menjadi begitu Bahagia
dan bangga tanpa harus berusaha dengan susah payah. Parahnya lagi proses ini
menyebabkan adiktif atau ketagihan yang berdampak pada pembusukan otak,
maksudnya bukan busuk dalam arti harfiah tetapi pembusukan ini terjadi karena
otak mulai menjadi tumpul, tidak bisa berpikir dengan jernih, membunuh
kreatifitas, mematikan inisiatif pikiran.
Algoritma media sosial memang
dibuat agar pengguna ketagihan, membuat rasa penasaran itu tak kunjung habis.
Otak di banjiri oleh dopamin saat kita berselancar di media sosial.
Berenang-renang dengan dopamin hanya dengan likes, komen, melihat video-video
receh, merasakan menjadi seseorang seperti di video yang kita tonton. Sementara
algoritma tanpa henti memberikan kita konten-konten yang begitu sulit untuk berpaling.
Efek adrenalin juga memberikan
kita tantangan yang membuat kecanduan, saat bermain game, maka kita akan di
suguhi dengan reward atau penghargaan instan dengan memberikan kenaikan level,
dan hadiah virtual pada saat misi selesai. Kanal video Youtube menyajikan
konten-konten sesuai keinginan kita tanpa harus menunggu jadwal acara seperti
di TV-TV konvensional. Video short nya sangat sulit untuk kita tinggalkan.
Tanpa kita sadari
kebiasaan-kebiasaan di atas lambat laun merusak sistem reward di otak yang
berjalan dengan mengatur hormon dopamin yang dilepaskan apabila kita sudah
bersusah payah dan membutuhkan waktu yang panjang untuk mencapai sesuatu.
Dopamin dengan mudahnya kita dapatkan saat menggunakan gadget. Sehingga kita
malas untuk berusaha dan menghargai proses untuk menjadi lebih baik. Kecanduan
dopamin instan membuat anda menjadi zombie hidup yang tak bisa lepat dari
gadget. Tidak bersyukur, tidak bisa fokus, sulit berfikir, mudah bosan,
parahnya lagi sifat malas menjadi darah daging.
Awalnya internet dan gadget hanya
menjadi pelarian saat datang kebosanan, semakin lama tenyata semakin sulit
untuk kita lepaskan ikatannya, seperti candu yang membuat kita terjerembab
dalam lingkaran kecanduan. Hanya berkutat dengan kesenangan semu, fokus dan
tujuan hidup mulai ditinggalkan. Kita lupa dengan hidup yang menikmati proses,
mengorbankan waktu, usaha dan pikiran untuk memperoleh kebahagian. Apakah anda
akan hidup terus-menerus dengan mengorbankan impian anda hanya demi kesenangan
semu???? menjadi zombie hidup??
Untuk menghilang kebiasaan-kebiasaan yang meracuni otak kita tersebut anda membutuhkan metode DOPAMIN DETOK, mengembalikan fungsi dopamin sesuai fitrahnya. Mengurangi atau menghilangkan ketergantungan pada kebiasaan-kebiasaan yang memberikan dopamin instan seperti kecanduan game, media sosial, video pendek, game, dan juga pornografi.
Langkah-langkah metode dopamin detok :
- Hilangkan
atau kurangi sedikit demi sedikit kebiasaan-kebiasaan yang menghasilkan hormone
dopamin instan.
Jauhkan gadget
dari hadapan kita. Bukan berarti kita tidak boleh menggunakan gadget, tetapi
cobalah untuk tidak mengakses media sosial, game, video receh, pornografi dan
musik secara konsisten. Yakinlah dengan meninggalkan kebiasaan tersebut membuat
hidup anda lebih produktif. Tahap awal anda akan merasa sulit, kebosanan akan
datang menghampiri. Kebosanan menjadi titik nol untuk mendetoksifikasi dopamin,
anda akan semakin larut dalam kebosanan, biarkan kita semakin larut kedalam
palung kebosanan semakin dalam… dalam… dan dalam lagi…
Ya karena memang tujuannya seperti itu. Biarkan otak kita melakukan reset ulang. Jangan berbalik arah kembali terjerembab dopamine semu.
- Mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang
bermakna dan produktif
Saat titik kebosanan mencapai puncaknya alihkan dengan melakukan kegiatan produktif, seperti menyelesaikan pekerjaan kita, lakukan rencana-rencana kegiatan yang telah terbangkalai, bersosialisasi dengan kerabat, menyusun kegiatan lainnya yang produktif jauh dari gadget. Yakinlah dititik ini anda akan begitu menghargai proses. Kegiatan produktif yang sepele akan sangat terasa bermakna. Sayapun sedang melakukannya dengan cara mulai membuat blog dan menulis artikel yang bermanfaat, sedikit demi sedikit.
- Berikan
perhargaan atau reward setelah kita menyelesaikan suatu tugas
Ini point
pentingnya, kita harus menghargai diri kita sendiri. Berikan reward pada diri
kita sendiri pada saat tujuan produktif telah tercapai. Reward seperti berbuka
setelah kita berpuasa seharian. Lakukan kegiatan ini selama 100 hari
berturut-turut. Berikan reward yang lebih besar ketika mencapai sesuatu
pencapaian tujuan tugas yang lebih besar.
Dengan melakukan tips tersebut
secara konsisten maka anda akan sangat menghargai waktu, menghargai proses,
hidup menjadi lebih fokus, tujuan-tujuan yang dahulu terbengkalai mulai
terlihat menghasilkan. Teh di pagi hari akan terasa nikmat, menatap langit
terasa lebih indah, suara kicau burung terdengar semakin merdu, hidup akan
lebih bermakna.
Tabiat yang menggunakan teknologi
hanya untuk kesenangan semata, menjadi candu yang memabukkan yang tanpa sadar
kita larut kedalamnya. Menggunakan teknologi tidak ada salahnya, yang salah
apabila menggunakan teknologi bukan untuk mendukung produktifikas dan
pertumbuhan. Menggunakan gadget hanya sebagai pelarian dari realita kehidupan. Mulai
sekarang manfaatkan waktu anda jangan terbuang percuma, ciptakan keseimbangan
antara penggunaan teknologi dan kehidupan nyata agar tidak larut dalam kecanduan
gadget. Gunakan gadget sesuai kebutuhan saja seperti membaca pesan masuk,
membalas pesan masuk. Hindari penggunaan media sosial, nonton film netflix,
larut dalam drama korea, terjebak dalam video receh reels, short, game dan musik
pun sebaiknya di hindari. FOMO akan ketertinggalan informasi dari gadget hanya
sebuah ketakutan semata, nyatanya ketika kita membatasi diri dari segala
informasi seperti gosip, rumor, berita-berita yang tidak perlu malah membuat
hidup kita semakin berarti, pikiran kita akan lebih fresh jauh dari penyakit
hati.
Dan yang terakhir yang paling
sulit adalah mencoba untuk konsisten, 100 hari bukanlah waktu yang pendek. Hari-hari
terlewati akan terasa sangat membosankan, setara dengan kompensasi yang akan
anda terima nantinya. Mereset otak, mengembalikan fungsi otak dan hormon
dopamin yang kembali berjalan normal, pekerjaan anda akan mulai tertata, kehadiran
kita pun akan terasa dalam keluarga. Kehidupan produktif menanti anda, ketika pencapaian
anda mencapai puncak, rasakan lah dopamin kemenangan yang sesungguhnya yang
dihasilkan dari usaha keras dan pengorbanan yang panjang.